Aku, wanita berumur 24 tahun, bekerja sebagai supervisor di salah satu event organiser di bandung. Saat ini aku sedang pusing. Kenapa? Karena Albert, salah satu kucingku, maksudku pria mainanku, terus saja menelponku, dan bersikap posesif. Dalam seminggu ini, dia sudah menelponku beribu-ribu kali, hanya menanyakan keberadaanku, dan dengan siapa aku bersama. Jujur, aku merasa sangat terganggu. Kucing adalah sebutan untuk semua pria yang menjadi mainanku.
Selain kucing, aku juga memiliki Kelinci. Kelinci adalah pacarku yang sebenarnya. Tahun ini adalah tahun kelima sejak aku berpacaran dengannya. Dia baik, setia, memberikan semua yang aku butuhkan, pemaaf, sabar, secara keseluruhan dia adalah pria idaman para wanita. Namanya Gerdi. Aku bisa bertemu dengannya karena dia dulu adalah seniorku di kampus. Saat itu aku sedang digodai senior-senior kampus, lalu tiba-tiba dia muncul. Waktu itu dia sama sekali tidak tersenyum padaku, dia memandangku tanpa ekspresi, seperti kau tengah memandang kodok loncat di dapurmu, kau tidak mau menyingkirkannya, juga tidak mau mengambilnya, jadi kau Cuma memandangnya saja.
Tahun pertama aku mendekatinya habis-habisan, dan bisa dibilang tidak tahu malu. Aku selalu mengiriminya surat berbentuk hati, mengucapkannya beribu-ribu kata cinta. tapi, dia selalu menghiraukanku. Aku juga sampai membayar temannya agar aku bisa mendapatkan nomor telponnya. Dan gara-gara hal itu mereka jadi bertengkar. Karena tiap menit aku selalu mengiriminya SMS dan meneleponnya walaupun tidak pernah dijawab.
Tahun kedua adalah tahun keberuntunganku. Saat itu aku sengaja kost dekat dengan rumahnya. mendekati ayah dan ibunya, dan juga selalu memberinya sarapan yang sengaja kubuat sendiri. Aku juga selalu minta tumpangan gratis darinya untuk pergi ke kampus sama-sama. Awalnya dia tidak menghiraukanku, tapi lama-lama dia berubah ramah dan bersikap lebih lembut kepadaku. Hari terpenting dalam hidupku yang tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku adalah ketika dia menerima pernyataan cinta dariku. Saat itu aku memberinya kejutan ulang tahun, dan memberinya sebuah kado gitar yang kubeli dengan berkorban menghabiskan semua tabunganku. Dia mengatakan ‘iyah’ dan aku menangis meraung-raung, terlalu bahagia.